Senin, 14 Oktober 2019

KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI SALAH SATU KOMODITI KEHUTANAN


Makalah Penilaian Hutan                                                Medan,  Oktober  2019
KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI POHON BARUS (Dryobalanops camphora)


Dosen Penanggung jawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si


Oleh:
Teliti Daeli
171201187
Budidaya Hutan 5















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dipterocarpaceae merupakan satu dari sembilan suku yang berada di dalam ordo Malvales. Malvales merupakan kelompok besar tumbuhan yang menaungi banyak anggota berkarakteristikan: memiliki floem berlapis-lapis, terdapat saluran musilase, memiliki rambut-rambut berbentuk bintang, dan letak daun kelopak berlekatan (Judd et al., 2002). Pada umumnya anggota Dipterocarpaceae terdiri atas pohon-pohon besar yang merupakan penyusun utama beberapa hutan tropika basah, terutama di dataran-dataran rendah kawasan tropis Asia (India, Ceylon, Burma, Thailand, Semenanjung Malaya, Filipina, Barat daya China, dan Hainan). Namun demikian ditemukan pula di wilayah tropis Afrika dan bagian utara Amerika Selatan. Keanggotaan Dipterocarpaceae meliputi sekitar 3.560 jenis yang terbagi dalam 20 marga dan 10 marga diantaranya tercatat tumbuh di kawasan Malaya
Kelompok tumbuhan anggota Dipterocarpaceae dicirikan oleh habitus berupa pohon, terdapat saluran resin pada empulur, kayu, dan kulit batang, sedangkan saluran musilase terkadang dijumpai pada korteks dan empulur; serta terdapat tanin. Di samping itu anggota Dipterocarpaceae juga memiliki daun tunggal, duduk daun berseling seringkali 2 deret, tepi rata, pertulangan menyirip. Bunga biseksual, simetri radial, tidak ada epikaliks. Daun mahkota berjumlah 5, imbricate dan convolute. Buah nut, hanya berisi 1 biji, dan biji tanpa endosperm.
 Dryobalanops camphora Colebr. merupakan salah satu contoh jenis tumbuhan kelompok Dipterocarpaceae  yang memiliki beberapa keunggulan karena dari satu batang pohonnya dapat dihasilkan beragam komoditi bernilai ekonomi tinggi seperti kapur barus (kamfer), balsam, damar, minyak atsiri, dan kayu. Di samping itu, keberadaan tumbuhan kapur pada saat ini menurut International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Redlist termasuk dalam status konservasi Critically Endangered atau kritis. Status ini merupakan status keterancaman dengan tingkatan paling tinggi sebelum status punah. Berasumsi dari kedua alasan tersebut, disajikan tulisan yang bermakna sebagai ulasan singkat zaman keemasan tumbuhan kapur sehingga diharapkan mampu membangkitkan dan memotivasi masyarakat untuk turut berperan melestarikannya.
Dipterocarpaceae merupakan salah satu suku yang paling kaya akan jumlah jenisnya, diprediksi di seluruh dunia mencapai 506 jenis yang tergolong dalam 14 marga, dan  sebagian besar (76%) jenis tumbuh di kawasan Malesia, terutama di Indonesia (Purwaningsih, 2004). Di Indonesia, anggota suku Dipterocarpaceae dikenal dengan beragam nama, diantaranya Meranti (Shorea), Keruing (Dipterocarpus), Resak (Vatica dan Cotylelobium), Mersawa (Anisoptera), Kapur (Dryobalanops), dan Merawan (Hopea). Sebagian besar keluarga meranti memiliki nilai kualitas kayu yang sangat baik, keras, dan ringan, sehingga bukan rahasia lagi bila hutan meranti menjadi sasaran utama pembalakan hutan di Indonesia dan Malaysia.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1.      Klasifikasi pohon barus
2.      Nama dan daerah penyebaran kayu kapur
3.      Kegunaan produk dari  pohon barus bagi kesehatan
4.      Nilai ekonomi pohon barus
5.      Metode penilaian sumber daya hutan dari pohon barus
1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui Klasifikasi pohon barus
2.      Untuk mengetahui nama dan daerah penyebaran kayu kapur
3.      Untuk mengetahui kegunaan produk dari pohon barus bagi kesehatan
4.      Untuk mengetahui manfaat ekonomi dari pohon barus
5.      Untuk mengetahui Metode penilaian sumber daya hutan dari pohon baru




BAB II
PEMBAHASAN