Makalah Penilaian Hutan Medan, Oktober 2019
KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI POHON
BARUS (Dryobalanops camphora)
Dosen Penanggung jawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Teliti Daeli
171201187
Budidaya Hutan 5

PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dipterocarpaceae
merupakan satu dari sembilan suku yang berada di dalam ordo Malvales. Malvales
merupakan kelompok besar tumbuhan yang menaungi banyak anggota
berkarakteristikan: memiliki floem berlapis-lapis, terdapat saluran musilase,
memiliki rambut-rambut berbentuk bintang, dan letak daun kelopak berlekatan
(Judd et al., 2002). Pada umumnya anggota Dipterocarpaceae terdiri atas
pohon-pohon besar yang merupakan penyusun utama beberapa hutan tropika basah,
terutama di dataran-dataran rendah kawasan tropis Asia (India, Ceylon, Burma,
Thailand, Semenanjung Malaya, Filipina, Barat daya China, dan Hainan). Namun
demikian ditemukan pula di wilayah tropis Afrika dan bagian utara Amerika
Selatan. Keanggotaan Dipterocarpaceae meliputi sekitar 3.560 jenis yang terbagi
dalam 20 marga dan 10 marga diantaranya tercatat tumbuh di kawasan Malaya
Kelompok
tumbuhan anggota Dipterocarpaceae dicirikan oleh habitus berupa pohon, terdapat
saluran resin pada empulur, kayu, dan kulit batang, sedangkan saluran musilase
terkadang dijumpai pada korteks dan empulur; serta terdapat tanin. Di samping
itu anggota Dipterocarpaceae juga memiliki daun tunggal, duduk daun berseling
seringkali 2 deret, tepi rata, pertulangan menyirip. Bunga biseksual, simetri
radial, tidak ada epikaliks. Daun mahkota berjumlah 5, imbricate dan convolute.
Buah nut, hanya berisi 1 biji, dan biji tanpa endosperm.
Dryobalanops
camphora Colebr. merupakan salah satu contoh jenis tumbuhan kelompok
Dipterocarpaceae yang memiliki beberapa
keunggulan karena dari satu batang pohonnya dapat dihasilkan beragam komoditi
bernilai ekonomi tinggi seperti kapur barus (kamfer), balsam, damar, minyak
atsiri, dan kayu. Di samping itu, keberadaan tumbuhan kapur pada saat ini
menurut International Union for the Conservation of Nature and Natural
Resources (IUCN) Redlist termasuk dalam status konservasi Critically Endangered
atau kritis. Status ini merupakan status keterancaman dengan tingkatan paling
tinggi sebelum status punah. Berasumsi dari kedua alasan tersebut, disajikan
tulisan yang bermakna sebagai ulasan singkat zaman keemasan tumbuhan kapur
sehingga diharapkan mampu membangkitkan dan memotivasi masyarakat untuk turut
berperan melestarikannya.
Dipterocarpaceae
merupakan salah satu suku yang paling kaya akan jumlah jenisnya, diprediksi di
seluruh dunia mencapai 506 jenis yang tergolong dalam 14 marga, dan sebagian besar (76%) jenis tumbuh di kawasan
Malesia, terutama di Indonesia (Purwaningsih, 2004). Di Indonesia, anggota suku
Dipterocarpaceae dikenal dengan beragam nama, diantaranya Meranti (Shorea),
Keruing (Dipterocarpus), Resak (Vatica dan Cotylelobium), Mersawa (Anisoptera),
Kapur (Dryobalanops), dan Merawan (Hopea). Sebagian besar keluarga meranti
memiliki nilai kualitas kayu yang sangat baik, keras, dan ringan, sehingga
bukan rahasia lagi bila hutan meranti menjadi sasaran utama pembalakan hutan di
Indonesia dan Malaysia.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah
dari makalah ini adalah:
1. Klasifikasi pohon barus
2. Nama dan daerah penyebaran kayu kapur
3. Kegunaan produk dari pohon barus bagi kesehatan
4. Nilai ekonomi pohon barus
5. Metode penilaian sumber daya hutan dari pohon barus
1.3
Tujuan
Adapun tujuan
dari makalah ini adalah:
1.
Untuk mengetahui
Klasifikasi pohon barus
2.
Untuk mengetahui
nama dan daerah penyebaran kayu kapur
3.
Untuk mengetahui
kegunaan produk dari pohon barus bagi kesehatan
4.
Untuk mengetahui
manfaat ekonomi dari pohon barus
5.
Untuk mengetahui
Metode penilaian sumber daya hutan dari pohon baru
BAB II
PEMBAHASAN